Tuhan, aku tak tahu kapan Engkau memanggilku, aku tak tahu kapan Engkau memisahkan aku dengan orang-orang terkasihku.
saat ini ketakutan menghantuiku. aku takut Engkau menggariskan hidupku seperti kakak kelasku. aku takut karena beralasan kuat.
kami mempunyai banyak persamaan dalam gaya hidup, hobby, kesukaan dan minat. Dan aku pun takut jika garis hidupku sama seperti dia.
Tuhan, jika memang garis hidupku sama sepertinya. aku takut banyak orang sedih. aku takut ibu dan keluargaku harus menerima keadaan bahwa mereka harus kehilangan anak lagi. dan itu semua membuat aku sakit. aku masih ingat betapa banyak air mata yang diteteskan orangtuaku ketika mereka kehilangan salah satu kakak aku. dan jika mereka kehilangan aku, berapa banyak lagi produksi air mata yang akan mereka keluarkan?!
aku benci air mata. aku benci orang yang mengeluarkan air mata, karena aku paling tidak kuat untuk melihat air mata. dan gak mau orang-orang terkasihku kelak akkan meneteskan air mata jika aku tak ada lagi disamping mereka.
Tuhan, aku takut akan sesuatu yang merenggut nyawaku. dan saat ini ketakutan yang menghantuiku yaitu sakit yang menggerogoti tubuhku. aku merasakan ketidakberesan dalam tubuhku. terutama sistem pernafasanku. tapi aku takut apa yang kurasa ternyata benar adanya.
jika nanti aku memang akan meninggalkan orang-orang terkasihku, apakah banyak orang yang menangisi kepergianku?apakah mereka akan kehilanganku?atau malah mereka senang karena orang seperti saya yang semena-mena, kasar, suka menentang, bikin orang lain kecewa meninggalkan mereka?
namun jika banyak yang menyayangiku, dan jika nanti aku memang meninggalkan orang-orang di sekelilingku, aku tak ingin mereka mengetahui itu semua. aku tak ingin mereka mengetahui bahwa aku meninggalkan mereka untuk selamanya. aku tak ingin mereka meneteskan air mata untukku. aku tak ingin mereka bersedih.
keinginanku dalam hidupku yaitu membuat orang-orang terkasihku bahagia. aku tak ingin mereka susah. aku tak ingin mereka menjatuhkan air mata. apapun yang bisa membuat mereka tertawa akan aku lakukan. aku lebih mencintai mereka melebihi untuk diriku sendiri.
Tuhan, orang tua, keluarga dan teman itulah prioritas ku untuk membuat mereka bahagia. aku tak peduli apa yang aku lakukan menyakiti diriku sendiri. karena melihat mereeka tertawa adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. melihat mereka bahagia pasti aku iikut bahagia, namun kalau aku bahagia, belum tentu mereka bahagia.
tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa aku. bagaimana aku sebenarnya. karena aku tak ingin mereka mengetahui apa yang menjadikan aku lemah.
Maaf dan Terimakasih. itu yang bisa aku ucapkan untuk orang-orang yang mengenal aku.


0 komentar:
Posting Komentar